mencoba menulis
Wednesday, January 4th, 2006
Aku juga mulai belajar tato. Mentornya Anto tato. Punggung Bleki jadi kanvas. Kadang-kadang anak yang sudah tak bisa jalan karena teler kebanyakan moshing dan nenggak alkoholnya Joni. Ujung Malioboro dijadikan tempat mangkal. Sayangnya tak ada cewek-cewek seksi yang sudi singgah untuk ditato pinggulnya. Malah laki-laki berjaket kulit dengan tampang preman yang banyak minta ditato gambar tengkorak, daun ganja atau dengan malu-malu sangar minta ditorehkan tulisan “Jumilah I Love You” atau “Jeko dan Jeni Forever” di lengan kerempeng mereka atau di bokong yang aduhai lebih tidak sedap dibanding rupa dan bau Bleki.
Untungnya Anto tato naik kelas. Temannya yang dulu sama berjuang di seminari dan sama terpental dari sana membuat studio tato. Nama studionya Venus. Plang nama digambari bunga-bunga warna biru. Biar tidak sangar dan banyak cewek yang mampir. Ya, whateverlah. Anto jadi seniman utama, artinya dia yang mengerjakan tato-tato yang rumit dan full colour. Aku seniman kedua, mengerjakan tato yang simpel dan tak butuh banyak warna, dengan pengecualian jika yang akan ditato cewek sexy cakep bahenol dengan suara renyah mengundang selera. Dengan pengecualian lagi jika cewek sexy cakep bahenol dengan suara renyah mengundang selera itu memilih tempat tatonya di pinggul, perut, bokong atau payudara. Maka tugas seniman pertama dan pemilik studiolah, si Andreas untuk suit memperebutkan tugas maha penting itu.
belajar membuat cerita. akhirnya jadi juga satu novel picisan.