Archive for February, 2006

Thursday, February 23rd, 2006

ada pameran buku. ada banyak buku. ramai sekali. dan terbelilah Umberto Eco The Name of the Rose & The Key of the Name. lumayan, harga asli 107 ribu, tapi kemarin bisa dapat (cuma) seharga 65 ribu saja. juga beli Aktor Demokrasi, Polemik Magsaysay, Catatan Dari Buenos Aires, Benua Ketiga dan Terakhir, dan yang terakhir Atas dan Bawah-nya Subcomandante Marcos. kalau dihitung habis sekitar 133 ribu. lumayan banget. kalo gak pameran harganya mungkin bisa dua kali lipat.

ah, aku cinta Jogja dan mafia perbukuannya…

Friday, February 17th, 2006

pernah merasa begitu kecewa?

aku pernah. baru beberapa hari ini. sebabnya, foto-fotoku ternyata jelek semua, padahal aku ditugasin..sori…dipilih jadi tukang foto diklat pencinta alam (mantan) kampusku.

ampun deh, bener-bener ga ada yang bagus. malu banget. padahal ga cuma sekali ini jadi tukang foto. lain kali harus belajar teknik lebih banyak. dan ingat, jangan pakai film murahan. apalagi di push!

Wednesday, February 1st, 2006

‘O Lord

please lead me

from the unreal from the real

lead me from darkness from the light

from death nor eternal life…

itu lirik lagunya Melancholic Bitch yang judulnya Departemental apa gitu…lupa.

lirik yang bagus banget. puitis. bikin miris. maukah tuhan menjaga kita dari hidup yang absurd ini, padahal dia yang menciptakan hidup yang absurd untuk kita? kekurangan kerjakah tuhan sampai dia menciptakan hidup absurd dan menjaga kita dari ciptaannya sendiri?

sepertinya tidak.

O tuhan yang tak terjangkau akal, mari sini kita bernyanyi. lagu Melancholic Bitch saja, karena aku lagi senang dengan syairnya. lead me from darkness from the light, ok tuhan?

tadi akhirnya bisa nonton Platoon-nya Oliver Stone sampai tuntas. bagaimana dengan si Elias, tuhan? telerkah dia di surga dengan setangkup ganja dimukanya? bagaimana dengan Sersan Barnes? berkumpulkah dia dengan vietcong-vietcong yang dibunuhnya di neraka?

baru saja tadi habis makan di warung bakmi Jumpa Pers. warung yang terkenal dengan bongkah-bongkah garam yang tak tercampur rata di nasi gorengnya. warung yang terkenal karena sering ditulis Umar Kayam di kolom harian Kedaulatan Rakyat. dengan seorang teman yang sama sekali berbeda cara pandang dan cara hidup. saling berbicara tentang ketidaknyamanan, tapi sekaligus merasa nyaman karena membicarakan ketidaknyamanan itu. hidup itu tak tertebak. seperti keponakanku yang membuatku tercengang karena mampu mengingat dan menulis karakter serta nama benda dan nama tempat Sponge Bob tanpa kesalahan satu hurufpun padahal jelas semuanya berbahasa inggris dan keponakanku baru kelas tiga sd dan bukan turunan bule yang orangtuanya pandai berbahasa inggris.